Dua Orang Terkenal

Dua orang terkenal ‘bertarung’ di Twitter perihal operasi tangkap tangan (OTT) yang menjadi modus operandi KPK dalam menangkap koruptor. Orang terkenal itu ialah Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR, dan Mahfud MD, pakar hukum tata negara yang telah mengenyam berbagai kedudukan di Republik ini.

Kedua orang terkenal itu dalam posisi bertentangan perihal OTT yang dilakukan KPK. Dengan argumentasi masing-masing, izinkan saya memadatkannya. Fahri menilai OTT itu ‘tidak sah’, sedangkan Mahfud menilainya ‘sah’. Pendapat ‘sah’ atau ‘tidak sah’ itu kiranya semata mempertegas sikap masing-masing yang telah diketahui publik.

Fahri berada di dalam tubuh dan jiwa Pansus Hak Angket KPK, sedangkan Mahfud berada di dalam tubuh dan jiwa Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara yang menilai pembentukan pansus itu cacat hukum. Akan tetapi, pencarian dan pembuktian kebenaran dalam perkara OTT itu sepatutnya tidak berada di sisi kedua orang terkenal itu.

Terlebih melalui Twitter. Kata peribahasa yang pernah dikutip Aristoteles, ‘Jabatan dan kehormatan adalah sama persis bagi orang yang baik dan yang jahat’. Bukan filsuf kalau lebih panjang lidah daripada pikiran, lebih panjang mulut daripada kearifan. Pandanglah kedua orang terkenal itu sebagai orang baik, tetapi urusan tetaplah sama bahwa pencarian dan pembuktian benar tidaknya penggunaan OTT itu bukan pada klaim mereka berdua.

Kebenaran patut diandaikan tidak berada di pihak mana pun yang tengah ‘bersengketa’. Pertanyaannya, siapa gerangan pemilik kata putus itu. Badan manakah yang punya kedaulatan penuh untuk menjenihkan perkara yang buram? Jawabnya barangkali berada di puncak penentu keadilan (Mahkamah Agung) atau di puncak takhta penjaga denyut konstitusi (Mahkamah Konstitusi).

Karena itu, harus ada yang berposisi legal untuk membawanya ke hadapan mahkamah. Tentu saja mahkamah yang mana pun itu harus punya keberanian moral, bahkan keteguhan eksistensial untuk menghadapi penghakiman persepsi publik. Harus diakui OTT membuat publik semakin dalam percaya kepada KPK.

Persepsi publik amat yakin bahwa apa yang dilakukan KPK dengan OTT itu sangat benar. Senyatanya publik lebih memercayai KPK ketimbang lembaga negara lainnya, tidak kecuali MA ataupun MK, karena ‘oknum’ mereka pernah ditangkap KPK. Persepsi publik itu jelas mengandung heroisme terhadap KPK.

Kiranya tidak tampak di mata publik kemungkinan adanya malapraktik dalam KPK melaksanakan OTT. Ketika hal itu misalnya terbukti benar, publik menolaknya dan menilainya sebagai upaya melemahkan KPK, dan karena itu sang pemutus perkara pun dihajar publik.
Padahal seyogianya muncul keheranan, kenapa KPK kian agresif menggunakan OTT itu justru di tengah perseteruan dengan Panitia Khusus Hak Angket KPK.

Tidakkah itu ekspresi psikologis ‘membangun kepercayaan melawan kecurigaan’? Sebaliknya, sama persis, kiranya serangan terhadap OTT khususnya, sepak terjang Pansus Hak Angket KPK umumnya, juga boleh dibaca sebagai ekspresi di tubuh DPR untuk mengelak dari cengkeraman kuku tajam OTT.

Semua itu sepertinya pertanda ‘sakit’. Karena itu, tidak bijak dibahas berpanjang-panjang. Serahkan kepada sang pengadil sekalipun mereka tidak sehat benar. Baiklah kembali kepada kedua orang terkenal itu. Saya lagi dan lagi ingin mengikuti pandangan Karl Mannheim yang membagi elite ke dalam dua kelompok, yaitu elite integratif dan elite sublimatif yang berbeda secara fundamental.

Pemimpin politik tergolong elite integratif, yang mengintegrasikan sejumlah besar kehendak perseorangan. Kaum intelektual tergolong elite sublimatif, yang mengadakan sublimasi dalam perenungan dan pemikiran. Keduanya punya tugas kolektif untuk mengembangkan jalan keluar yang produktif secara sosial.

Twitter, sang media sosial, tidak bakal dapat dipakai untuk mengembangkan jalan keluar yang produktif secara sosial, terlebih menyangkut pikiran-pikiran besar mengenai kenegaraan. Terlalu pendeknya ujaran di platform itu kiranya juga mencerminkan terlalu pendeknya pikiran. Karena itu, ‘adu pikiran’ di situ kiranya lebih menunjukkan ‘pendeknya pikiran’.

Jika elite integratif dan elite sublimatif sama-sama ‘terlalu pendek’, dan di dalam yang terlalu pendek itu ada pula yang merasa ‘berpikir panjang dan mendalam’, saya pun minta ampun karena tidak terhindarkan kembali kepada kesimpulan bahwa kedua tipe elite memang sedang ‘sakit’.

Tulisan ini juga ekspresi orang ‘sakit’ bila merasa superior. Sumber penyakit itu ialah bila tiap orang merasa superior terhadap orang lain, bila elite yang satu superior terhadap elite lain, bahkan terhadap semua elite.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.