Salam 2 Periode

TEPAT tiga tahun Jokowi menjadi presiden (20/10), hari itu WA saya dibanjiri kiriman hasil survei kinerja sang pemimpin, disertai berbagai komentar.

Akan tetapi, ada satu komentar singkat, ‘Salam 2 periode’.

Salam itu tidak disertai tanda seru.

Kiranya hanya orang yang percaya diri dengan bukti-bukti empiris yang meyakinkan, yang siap mengajak ke suatu sasaran atau tujuan tanpa perlu disertai tanda seru.

Semakin banyak tanda seru menunjukkan sebaliknya.

Di sebuah rumah dipasang ‘Awas anjing galak’.

Tanpa tanda seru.

Rumah lain pakai satu tanda seru, ‘Awas anjing galak!’.

Rumah lain lagi dua tanda seru. Bahkan, ada yang pakai tiga tanda seru.

Apakah lebih banyak tanda seru anjingnya lebih galak? Yang lebih galak mungkin orangnya.

Banyaknya tanda seru itu kiranya lebih mengekspresikan pemilik anjing itu kurang percaya diri bahwa pesan yang dikomunikasikan tersampaikan.

Kitab suci antara lain berisi seruan.
Dalam sebuah kitab suci yang saya baca, jarang ditemukan tanda seru.

Salah satunya, ‘Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!’

Ada dua hal pokok hasil survei tiga tahun pemerintahan Jokowi yang rasanya berbunyi tanpa perlu tanda seru.

Pertama, kepuasan yang bahkan mencapai 70,8%.

Kedua, bila pada hari survei Litbang Kompas itu dilakukan (26 September-8 Oktober 2017) pemilu diselenggarakan, sebanyak 46,3% menyatakan bakal memilih Jokowi untuk melanjutkan memimpin Republik ini.

Masih ada 23,6% yang belum menjawab. Perkara lumrah.

Masih ada waktu dua tahun bagi Jokowi untuk bekerja keras dan bekerja cerdas memberi lebih banyak bukti.

Akan tetapi, sepuas-puasnya rakyat, tidak sehat bagi demokrasi jika 100% responden menyatakan memilih kembali Jokowi.

Banyak alasan kenapa kepuasan kepada Jokowi tinggi, antara lain ia memenuhi janji Indonesia sehat dan Indonesia pintar, dua kartu andalannya dalam debat publik capres.

Tiga tahun menjadi presiden, ia telah membagikan secara langsung 1.286.395 lembar kartu Indonesia sehat untuk warga 514 kabupaten dan kota.

KIS telah diterima 182 juta penduduk Indonesia.

Ia juga membagikan langsung dari tangannya sendiri 46.336 lembar kartu Indonesia pintar di 39 kota dan kabupaten.

Total lebih 8 juta KIP telah dibagikan kepada siswa-siswa sekolah.

Yang paling kelihatan oleh rakyat ialah kerja besar membangun infrastruktur yang hasilnya tidak perlu tanda seru untuk meyakinkan publik.

Total jalan yang sudah dibangun 2.623 kilometer.

Panjang jembatan yang telah dibangun 25.149 meter.

Tujuh bandara baru sudah dibangun dan 439 bandara lama telah pula dibenahi.

Presiden pun telah membagikan langsung 137.035 lembar sertifikat hak milik tanah untuk rakyat.

Tampaklah kata kuncinya ialah ‘sudah’ atau ‘telah’. Karena ‘telah’ atau ‘sudah’ dikerjakan, rakyat tidak perlu banyak tanda seru untuk diyakinkan.

Rakyat dapat membuktikan di lapangan dan merasakan sendiri maslahatnya.

Akan tetapi, Republik ini besar dan luas serta banyak ketinggalan yang tidak dapat diselesaikan serentak dalam tiga tahun, bahkan dalam lima tahun.

Jokowi berpendirian tidak mengerjakan semuanya dan semuanya tidak selesai.

Hasilnya mangkrak. Jokowi berani mengambil prioritas dan fokus membangun infrastruktur.

Dalam bahasanya sendiri kepada harian ini dalam wawancara khusus, “Kalau saya kembali lagi ke satu-satulah. Artinya setelah infrastruktur, lalu pembangunan sumber daya manusia.”

Otoritas Jokowi hasil pilihan rakyat dan otoritas itu dilaksanakan bukan tanpa gangguan. Terjadi kegaduhan bernapaskan agama yang bisa memukul mundur bangsa dan negara ini jauh ke belakang.

Kegaduhan diatasi berkat kepemimpinan yang kuat dan jujur.

Di era kebebasan berserikat, hanya pemimpin yang kuat dan jujur tegar menerbitkan perppu mengenai ormas.

‘Salam 2 jari’ hendak diteruskan dengan ‘Salam 2 periode’, tanpa tanda seru.

Tentu saja Jokowi dan para pembantunya dan pendukungnya harus menjawab macam-macam tanda tanya seperti daya beli dan lapangan kerja yang disuarakan kalangan oposisi.

Bukan oposisi namanya kalau tidak bersuara ‘lain’ dengan banyak sekali tanda seru.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.