Dagelan Setya Novanto

SEORANG kawan menjawabnya cuma luka lecet. Itu dagelan, katanya. Kami pun tertawa. Humor itu serius. Kata saya, “Kita lihat bagaimana KPK menghadapi dagelan. Apakah masih bisa tertawa?” Kami kembali tertawa. Setya Novanto telah menjadi hiburan tersendiri. Ada yang menulis begini. Setnov harus tertangkap bulan ini.

Kalau bulan depan, jadi Setdes. Bulan depannya lagi Setjan. Kalau tidak tertangkap juga, set dah, busyet dah. Humor yang ini sadis. Kata dokter, walaupun benturan di kepala menyebabkan bengkak segede bakpao, tidak mengganggu otak. Setelah diperiksa, ternyata letaknya di lutut.

Jadi aman. Karena itu, dokter tidak mau memberi surat keterangan Setya Novanto gegar otak. Masih banyak dagelan di seputar Setya Novanto. Semua dagelan itu berseliweran melalui WA. Tidak jelas siapa penciptanya dan tidak perlu dibikin jelas baik untuk keperluan hak intelektual, karena tidak ada nilai intelektualisme di dalam semua humor itu, maupun untuk keperluan pengusutan pencemaran nama baik, karena di mata masyarakat warga Setya Novanto telah kehilangan nama baik.

Setya Novanto terus bersiasat agar tidak diperiksa KPK, apalagi ditangkap KPK.
Alasan yang dipakai ialah sakit. Sakit yang dideritanya sekarang korban kecelakaan lalu lintas yang memicu orang memproduksi begitu banyak dagelan yang mencerminkan luasnya ketidakpercayaan masyarakat warga bahwa Setya Novanto benar-benar sakit.

KPK selama ini selalu berhasil menahan tersangka. Selain karena OTT, hal itu dimudahkan terutama karena orang itu patuh memenuhi panggilan KPK. Setelah berkali-kali diperiksa, suatu hari orang itu dipakaikan rompi KPK sebagai tahanan.
Segala sesuatu digampangkan karena KPK begitu perkasa dan orang tidak melakukan perlawanan terhadap keperkasaan KPK.

Orang yang demikian itu secara umum dinilai menghormati hukum karena KPK merupakan lembaga penegak hukum. Bahkan, kamera TV menunjukkan orang yang mengenakan rompi KPK itu melambaikan tangan, seakan korupsi sebuah kebanggaan, bukan perkara memalukan.

Setya Novanto bukan jenis manusia macam itu. Dia bukan orang biasa. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa KPK bukan lembaga luar biasa yang mudah menangkap atau menahan orang yang tidak biasa. Karena itu, di awal tulisan ini, menanggapi penilaian seorang kawan bahwa sakit Setya Novanto dagelan, saya bilang, mari kita lihat bagaimana KPK menghadapi dagelan.

Apakah KPK masih bisa tertawa? Yang terjadi sebaliknya, KPK malah bikin orang tertawa karena menjadikan Setya Novanto sebagai DPO, daftar pencarian orang. Langkah cengeng. Orang yang dicari jelas ada di dalam rumah sakit. Sama lucunya ketika KPK menyatakan OTT terhadap Wali Kota Batu yang lagi di kamar mandi, di rumahnya.

Sejauh ini Setya Novanto dua kali dijadikan KPK tersangka untuk perkara yang sama. Sejauh ini KPK gagal menangkapnya, menjadikannya tahanan. Sejauh ini yang terjadi ialah ekspektasi publik yang normal agar Setya Novanto menghormati hukum, alias memudahkan KPK. Hal itu bukan saja suara publik, melainkan juga suara presiden dan wakil presiden.

Izinkan saya berpikir sebaliknya. Saya tidak berharap Setya Novanto bakal menyerahkan diri, apalagi atas nama menghormati hukum. Di balik dagelannya, justru dia berpandangan serius sedang berupaya menegakkan hukum atas kesewenang-wenangan KPK.
Siapakah yang menang?

Sekurang-kurangnya bagi saya, sesungguhnya dan senyatanya yang sedang diuji ialah ketangguhan dan kreativitas KPK untuk membuktikan diri bahwa dirinya superbodi yang benar, yang tidak kehilangan akal dan rasa humor dalam menghadapi dagelan Setya Novanto yang telah beredar luas di tengah masyarakat warga.

Maaf, dalam menghadapi Setya Novanto, sejauh ini KPK tampak mentok, buntu, bahkan cengeng.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.