Presiden Grusa-grusu

MENJELANG akhir tahun lalu, dalam perjalanan dari Bandara Las Vegas ke hotel, setelah tahu kami bertiga berasal dari Indonesia, sopir taksi yang membawa kami tiba-tiba nyerocos tentang Donald Trump, presidennya.

Di antaranya perihal Trump menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sopir taksi itu mengecilkan suara radio berbahasa Spanyol yang berkumandang dan meluncurlah permintaan maaf dari mulutnya.

“Forgive me, forgive us,” katanya.

“Trump’s idiot.”

Kami bertiga tertawa.

Dia pun tertawa, menertawakan presidennya sendiri.

Saya pikir inilah tertawa bersifat global karena Trump dinilai idiot kiranya merupakan penilaian global.

Sebutan idiot bukan satu-satunya predikat buruk untuk Presiden Trump.

Ia juga dinilai rasialis.

Rasialisme yang diekspresikannya berupa kebijakan antiimigran itulah yang kini membawa petaka.

Senat AS menolak anggaran negara yang diajukan pemerintahan Trump.

Pokok persoalan ialah Trump menghapus anggaran untuk 700 ribu orang yang disebut sebagai Dreamers, yaitu imigran belia yang tinggal di AS tanpa dokumen.

Di masa Presiden Barack Obama, negara menyantuni mereka di bawah payung program DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals).

Trump membabatnya, mengakibatkan masa tinggal mereka berakhir 5 Maret 2018.

Partai Demokrat menjawab ulah Republik itu dengan menggergaji semua anggaran federal yang tidak berhubungan dengan program penyantunan imigran.

Terjadilah shutdown, pemerintah federal harus menghentikan sebagian pelayanan publik mereka karena setelah melalui voting, Senat tidak menyetujui anggaran mereka.

Sebanyak 800 ribu pegawai federal bakal dirumahkan karena gaji mereka tidak ada di dalam anggaran negara.

Semula Trump ditengarai bakal berkompromi. Ternyata tidak.

Dia malah berkata sangat kasar menyebut Haiti, El Salvador, dan sejumlah negara di Afrika sebagai ‘shithole countries’.

Kata-kata kasar itu diucapkan di Oval Office dalam pertemuan informal dengan sejumlah anggota Senat.

Shithole merupakan slang yang vulgar yang artinya ‘luar biasa kotor’.

Meledaklah protes dari negara-negara yang dihina itu.

Pada 20 Januari lalu Trump mestinya merayakan setahun dirinya menjadi Presiden AS dengan gala dinner di Mar-a-Lago, resor mewah miliknya di Miami, Florida.

Tiket acara itu dijual mulai US$100 ribu untuk dua orang, yaitu untuk bersantap dan berfoto dengan presiden.

Anda dan pasangan/pendamping ingin bersantap malam semeja dengan Trump? Tiketnya US$250 ribu.

Pesta anniversary itu diberitakan batal.
Namun, hemat saya, hal itu hanya pesta yang tertunda.

Kenapa?

Saya yakin Trump tidak melihat shutdown itu sebagai bukti kegagalannya memimpin pemerintahan.

Sampai saat ini dia merasa dirinya sebagai presiden AS yang paling sukses.

Dia malah menuduh Demokrat lebih proimigran daripada negaranya sendiri.

Sebagai seorang idiot, setidaknya menurut penilaian psikologis seorang sopir taksi,
Presiden Trump tidak punya sejumlah kualitas utama seorang pemimpin.

Dalam usia 71, ia kiranya belum mencapai tahap integritas kehidupan yang mestinya telah dicapai pada usia 55.

Presiden ke-45 AS itu dari sisi spiritual juga dinilai tidak punya dimensi sensitif dan human seorang pemimpin.

Pembantaiannya terhadap Obamacare merupakan bukti yang kuat.

Dia sesungguhnya tidak peduli amat dengan berbagai isu utama yang dihadapi negerinya.

Trump mengambil keputusan kapan saja dia mau.

Contohnya, kala dia memecat Direktur FBI James B Comey.

Pada 9 Mei 2017 sore, Sean Spicer, sekretaris pers presiden, memasuki ruang media yang nyaris kosong.

Padahal, dia membawa berita besar itu, yang tiada tanda-tandanya bakal terjadi sore itu.

New York Times punya breaking news, karena korespondennya, Michael D Shear, saat itu masih nangkring di Gedung Putih.

Episode keputusan pemecatan Direktur FBI itu semata mau menunjukkan Presiden Trump ‘tidak dapat diprediksi’ karena sering terburu-buru bertindak.

Terutama terburu-buru dengan mulutnya (kasus shithole, contohnya) dan memindahkan otaknya ke jemari tangannya yang sangat gemar ber-Twitter (sepanjang tahun lalu ia mengirim 2.608 cicitan).

Tidak berlebihan menyimpulkan Trump pemimpin negara yang tidak punya masa inkubasi, yaitu waktu yang tenang untuk memikirkan persoalan.

Dia presiden idiot yang grusa-grusu yang kini menyusahkan rakyatnya dan pemerintahannya sendiri.

Karena itu, masuk akal kalau ada yang berniat menjatuhkan kekuasaannya di tengah jalan.

Yang jelas, AS, negara yang besar itu, ternyata juga punya kebodohan dalam memilih presiden.

Hal yang tidak boleh terjadi di negeri ini.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.