Tsunami Melayu dan Peranan Raja

APAKAH yang terjadi bila Raja Malaysia Sultan Muhammad V lamban bertindak?

Kiranya terjadi kekacauan berat di negeri tetangga itu.

Raja mengambil peran sentral di belakang layar sehingga perpindahan kekuasaan dari PM Najib Razak kepada PM yang baru Dr Mahathir Mohamad berjalan lancar dan berlangsung dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Rezim yang berkuasa 60 tahun tumbang dengan mulus, padahal tidak ada partai yang menang dengan meraih suara mayoritas.

Pakatan Harapan menang simple majority di parlemen.

Karena itu, Najib Razak menyebut parlemen dalam keadaan menggantung.

Bahkan beredar isu Raja akan menunda pelantikan Mahathir menjadi PM. Negara bisa berstatus keadaan darurat.

Itulah kemelut pada Kamis (10/5) dini hari, beberapa jam setelah rakyat selesai memilih.

Kemelut itu jadi lebih parah karena Komisi Pemilihan seperti memilih diam.

Saya rasa, komisi itu masih tidak percaya partai yang berkuasa kalah.

Bukan perkara aneh karena memang tidak ada analis yang memperhitungkan bahwa Barisan Nasional bakal kalah.

Hasil survei lembaga jajak pendapat independen Merdeka Center, yang dilakukan menjelang pemilu, menemukan perolehan suara BN turun 7,9% jika dibandingkan dengan pada 2013.

Kendati demikian, katanya BN tetap yang menang.

Semua itu keliru sehingga terjadilah pergantian kekuasaan yang tiada terduga. Sebuah situasi yang bisa menimbulkan kekacauan.

Namun, untung ada Raja Sultan Muhammad V, dan hemat saya, untung pula ada Leslie Lopez, koresponden regional The Straits Times, yang membuka peranan sang raja di belakang layar sehingga kekuasaan beralih dengan sangat mulus (The Straits Times, 10/5).

Dari laporan jurnalistik Leslie Lopez itu, izinkan saya menyimpulkan ada lima hal yang efektif strategis dilakukan Raja setelah selesai penghitungan suara.

Pertama, melalui adiknya, Sultan Nazrin Muizzuddin, wakil raja urusan perkotaan, Raja memerintahkan kepolisian untuk memelihara ketertiban dan menjaga hasil pemilihan umum.

Bukan perintah normatif karena di markas besar kepolisian Malaysia itu terdapat sebuah ruang operasi sangat rahasia dengan tayangan digital hasil perolehan suara.

Mabes tahu benar faktual hasil pemilu.

Karena itu, aparatur negara itu diperintahkan untuk menjaga hasil pemilu dengan penuh hormat pada suara rakyat.

Kedua, Raja memanggil Dr Wan Azizah, istri Anwar Ibrahim, Ketua Partai Keadilan Rakyat yang meraih suara terbanyak dalam koalisi Pakatan Harapan.

Bukankah dia yang berhak menjadi perdana menteri?

Ketiga, untuk memastikan jawaban atas pertanyaan siapa yang bakal menjadi PM itu, Raja menerima tiga pemimpin koalisi Pakatan Harapan, yaitu Dr Wan Azizah, Muhyiddin Yassin (Partai Pribumi Bersatu Malaysia), dan Lim Guan Eng (Democratic Action Party).

Ketiganya menyampaikan kepada Raja bahwa mereka telah bersepakat Dr Mahathir Mohamad-lah yang menjadi PM. Mahathir sendiri tidak hadir dalam pertemuan itu.

Keempat, tidak kalah penting pada Kamis pukul 03.00 itu Raja menerima tiga tokoh pemerintahan yang meminta Raja untuk segera melantik Mahathir menjadi perdana menteri.

Mereka ialah Kepala Sekretariat Pemerintahan Tan Sri Ali Hamsa, Inspektur Jenderal Tan Sri Fuzi Harun, serta seorang perwira senior Angkatan Bersenjata Malaysia.

Kelima, Raja menepis isu bahwa Raja akan menunda pelantikan Mahathir. Pada Kamis itu juga pukul 09.30 Mahathir dilantik menjadi PM.

Tentu harus disebut bagaimana publik tahu hasil pemilu sebenarnya, padahal Komisi Pemilihan belum mengumumkannya.

Menurut laporan jurnalistik Leslie Lopez, penghitungan suara rahasia dari mabes kepolisian itu beredar melalui WA.

Isinya antara lain koalisi Pakatan Harapan mendapat 127 kursi di parlemen, sedangkan Barisan Nasional hanya 86 kursi.

Mahathir mengambil inisiatif, melalui konferensi pers membuka hasil penghitungan itu.

Satu perkara sangat jelas telah terjadi tsunami Melayu. Barisan Nasional yang dipimpin Najib Razak kehilangan kepercayaan anak bangsanya, orang Melayu. Partai itu anjlok besar-besaran. 

Raja yang arif bijaksana menangkap suara hati rakyatnya.

Drama lain susul-menyusul. Mahathir melarang Najib ke luar negeri. Publik menunggu drama pemimpin tertua di dunia itu membongkar habis korupsi yang dilakukan Najib.

Raja berjanji mengampuni Anwar Ibrahim. Tunggu waktu saja terjadi drama yang mengejutkan sejarah, yaitu Mahathir menyerahkan kursi PM kepada Anwar yang dulu dihabisi Mahathir.

Semua itu happy ending, juga berkat perjuangan hebat sang istri, Wan Azizah.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.