Pemimpin Jahat Buah Kekonyolan

SIAPAKAH yang berhasrat memilih pemimpin jahat menjadi presiden dalam pilpres nanti? Maaf, ini pertanyaan konyol.

Lebih konyol lagi kalau ada anak bangsa ini yang mengidolakan pemimpin jahat karena itu kepingin presiden jahat yang terpilih pada Pilpres 2019.

Sebetulnya penulis pun termasuk anak bangsa yang konyol. Kenapa? Karena membahas perkara konyol ini.

Perihal pemimpin jahat itu muncul dalam pembicaraan publik dipicu pendapat yang intinya bilang dalam pilpres jangan golput agar tidak terpilih pemimpin yang jahat. Padahal, Pilpres 2019 menampilkan dua pasang capres-cawapres yang saya yakin semuanya bukan orang jahat.

Apa ukurannya? Izinkan saya pakai ukuran paling formal bahwa semua capres-cawapres memenuhi syarat pencalonan dan partai pengusung semuanya waras tidak mengusung orang jahat.

Maka dari itu, siapa pun yang terpilih tidak ada pemimpin jahat. Karena itu, kiranya yang menjadi pokok persoalan bukan pemimpin jahat yang akan dihasilkan, melainkan agar partisipasi pemilih dalam pilpres tinggi.

Bila melihat kecenderungan sejak 2004, sebetulnya wajar bila timbul kekhawatiran partisipasi pada Pilpres 2019 tidak lebih baik daripada pilpres-pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2004 putaran pertama partisipasi mencapai 78,2%, berarti golput 21,8%. Pada Pilpres putaran kedua partisipasi malah turun mencapai 76,6%, berarti golput 23,4%.

Partisipasi dalam Pilpres 2014 sebesar 69,58%, turun jika dibandingkan dengan Pilpres 2009 yang mencapai 71,71%. Ini berarti golput naik dari 28,29% menjadi 30,42%.

Demikianlah partisipasi pada tiga kali pilpres yang mencapai sekitar 70% dan golput sekitar 30%. Apakah itu buruk?

Jelas tidak buruk. Jelas pula partisipasi sejumlah itu cukup bermakna bagi tegaknya legitimasi presiden-wakil presiden terpilih.

KPU pernah menargetkan partisipasi pilpres mencapai 75%. Target itu tidak pernah tercapai sehingga KPU pun sepertinya tidak lagi bernafsu memasang target partisipasi.

Mungkinkah target itu malah tercapai pada 2019? Bukankah Pilpres 2019 istimewa karena dilaksanakan serentak dengan pileg? Hal yang pertama kali terjadi. Karena itu, boleh diharapkan justru membawa gairah baru bagi rakyat untuk menggunakan hak pilihnya.

Rentang waktu antara pencalonan capres-cawapres dan hari pemilihan presiden tergolong amat panjang. Sebelum masa kampanye tiba, di ruang publik telah berhamburan dan berseliweran suara banyak elite yang gemar berbicara. Ini buah kebebasan berbicara, kebebasan berpendapat, berdemokrasi yang tergolong terbesar di dunia. Apa eksesnya?

Di dalam banyak bicara kiranya ada kekonyolan seperti perihal pemimpin jahat yang rasanya tidak perlu menimbulkan perbantahan di ruang publik yang juga konyol.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.