Bangsa ini Perlu Kesintingan

PERADABAN manusia kiranya memerlukan kesintingan. Tanpa kesintingan tiada kemajuan.

Hanya yang sinting berani keluar dari kotaknya yang nyaman. Si sinting menantang dingin dan panas di luar kotak.

Orang sinting yang perlu duluan disebut ialah Albert Berry. Inilah orang pertama yang berhasil terjun payung dari pesawat terbang. Dia terjun dari ketinggian 457 meter. Parasut dengan garis tengah 11 meter itu baru terbuka setelah Berry terjun 152 meter.

Apa yang terjadi bila payung itu tetap tertutup? Tewas. Itulah kesintingan dalam kewarasan seorang pelopor yang berani mempertaruhkan nyawanya.

Orang sinting berikutnya ialah Charles Darwin. Menolak menjadi dokter, dia memilih mengikuti dorongan hatinya mengumpulkan bermacam-macam kumbang.

Kolektor kumbang itu berlayar selama lima tahun mengunjungi empat benua. Di Kepulauan Galapagos, sekitar 1.000 km pantai barat Ekuador, dia berlabuh selama lima pekan. Di situ dia mempelajari pipit dan kura-kura. Selama berlayar dia punya banyak waktu untuk tidak berbuat apa pun, selain membaca dan merenung, berefleksi.

Darwin melihat bagaimana transmutasi terjadi. Binatang yang cocok dengan lingkungannya hidup lebih lama dan lebih banyak punya generasi muda. Kemudian kita tahu dia penemu teori evolusi.

Orang sinting lainnya ialah Vincent van Gogh. Pelukis termasyhur itu dalam satu dasawarsa mampu menghasilkan 2.100 karya seni. Sinting dalam arti sebenarnya, di dalam sebuah kemarahan dia menggunting telinga kirinya dengan pisau cukur.

Indonesia juga punya pelukis dengan kesintingan yang alamiah. Pada usia yang semakin tua, Affandi berhadapan dengan kenyataan, inspirasi datang demikian cepat. Namun, tangan tuanya terlalu lamban menggunakan kuas untuk mengekspresikan sang inspirasi ke kanvas.

Kesintingan datang. Kuas ditinggalkan. Tangannya menggantikan kuas, berlumur cat minyak. Lahirlah lukisan teknik pelototan. Hemat saya, kita rindu lahir maestro-maestro sinting.

Semua itu kesintingan personal. Orang-orang dengan kesintingan kreatif. Bagaimana dengan kesintingan lembaga? Rasanya kita perlu kesintingan lembaga seperti KPK.

Gelar sinting KPK itu diberikan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat menanggapi pernyataan Ketua KPK Agus Rahardjo yang bilang, operasi tangkap tangan (OTT) bisa saja dilakukan setiap hari jika personel KPK memadai.

Kata Agus, dia tidak mencari-cari kesalahan. Pernyataannya itu karena masih banyak pejabat di Republik ini yang tidak jera korupsi.

Fahri menilai cara berpikir KPK salah. “Gila ini, otak kita ini diputernya ke arah yang salah. Iya kan?” Keberhasilan KPK mestinya diukur dari berkurangnya korupsi. Bukan malah bangga bisa OTT setiap hari. Dia bahkan menilai KPK sinting.

Apakah Fahri keliru? Tidak. Negeri ini memang memerlukan lembaga sinting seperti KPK.

Di Republik ini korupsi menjadi arus besar yang normal. Pejabat tidak korupsi pejabat tidak normal. Karena itu, kita perlu lebih banyak lagi yang sinting-sinting, orang atau lembaga yang tidak normal yang menolak korupsi, bahkan melawannya dan menghabisinya.

Kalau sampai tiap hari KPK bisa melakukan OTT, ini negeri memang negeri sinting. Bukan mustahil bisa pula terjadi kesintingan sangat sinting, suatu hari KPK meng-OTT dirinya sendiri. Kenapa?

KPK sangat berkuasa. Kekuasaan cenderung korup. Karena itu, kontrol dan kendali diri di dalam tubuh KPK yang dinilai sinting itu harus tetap dilaksanakan dengan sinting agar pembersih tetap bersih. Bangsa ini perlu kesintingan.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.