Kegigihan Ibu-Ibu

ADA dua berita yang menarik perhatian saya dalam kampanye pilpres pekan ini. Yang pertama berita seorang mahasiswi, yang kedua berita ibu-ibu.

Mahasiswi itu diberitakan menawarkan diri untuk menjadi istri kedua cawapres Sandiaga Uno. Hal itu disampaikannya dalam kampanye di Sleman, Yogyakarta.

Nama perempuan itu Vincentia Tiffani. Sekarang beredar pengakuan bahwa dia hanya bercanda. Dia bilang untuk menghidupkan acara dia dimintai tolong panitia untuk bertanya bagaimana kalau dia menjadi istri kedua Sandiaga.

Berita yang kedua, ibu-ibu mengunjungi dari pintu ke pintu sejumlah tempat di Tanah Minangkabau. Kata mereka, Minangkabau negeri yang kaya dengan peradaban budaya. Kampung halaman tokoh-tokoh bangsa, antara lain proklamator Bung Hatta, Agus Salim, dan Buya HAMKA.

Ibu-ibu itu meyakini masyarakat Sumatra Barat tidak akan terpengaruh dengan berita bohong yang terus disebarluaskan sebab masyarakat Sumatra Barat merupakan masyarakat rasional. Kaum perempuan itu bergabung dalam Komunitas Srikandi Indonesia (KSI) yang mengampanyekan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Gerakan mereka dipimpin Ketua Umum KSI Yanti Rukmana dan Pembina KSI Niniek Darmanto.

Mereka ialah emak-emak yang mendatangi warga dengan pesan rasional. Minangkabau memang tempat kelahiran banyak elite bangsa ini. Selain yang telah disebutkan, dari sana berasal Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama.

Dalam melahirkan orang-orang pintar Minangkabau, perlu disebut Kotagadang, yang sangat khas. Pada awal 1900-an, misalnya, inilah tempat kelahiran para pekerja birokrasi Belanda, seperti jaksa, pegawai pajak, yang meliputi daerah tugas Sumatra, Kalimantan, dan beberapa orang di Batavia. Di masa awal kemerdekaan, bahkan Bukit Tinggi pernah menjadi ibu kota Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika Yogya diserbu Belanda.

Saya sangat setuju betapa aneh bila orang Minangkabau percaya berita bohong. Menurut Sensus Penduduk 2010, hanya 2,30% penduduk berumur 7-15 tahun yang tidak/belum pernah sekolah.

Menurut data Unicef, pada 2015 angka partisipasi dalam pembelajaran PAUD yang terorganisasi di kalangan anak usia 6 tahun mencapai 95%, dan sebagian besar di antaranya masuk sekolah dasar lebih cepat.

Hampir separuh penduduk berumur 18 tahun bersekolah di sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi. Dari pepatah petitih Minangkabau pun tampaklah betapa kritis orang Minang. Mereka tidak hanya piawai berpepatah petitih sebagai ekspresi lisan, tapi juga lewat tulisan. Selama masa Balai Pustaka, 9 dari 15 pengarang terkemuka pada generasi 1920-1930-an itu ialah orang Minang.

e-Paper

Podium

Kegigihan Ibu-Ibu

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group – 28 March 2019, 05:30 WIB

MI/Tiyok

ADA dua berita yang menarik perhatian saya dalam kampanye pilpres pekan ini. Yang pertama berita seorang mahasiswi, yang kedua berita ibu-ibu.

Mahasiswi itu diberitakan menawarkan diri untuk menjadi istri kedua cawapres Sandiaga Uno. Hal itu disampaikannya dalam kampanye di Sleman, Yogyakarta.

Nama perempuan itu Vincentia Tiffani. Sekarang beredar pengakuan bahwa dia hanya bercanda. Dia bilang untuk menghidupkan acara dia dimintai tolong panitia untuk bertanya bagaimana kalau dia menjadi istri kedua Sandiaga.

Berita yang kedua, ibu-ibu mengunjungi dari pintu ke pintu sejumlah tempat di Tanah Minangkabau. Kata mereka, Minangkabau negeri yang kaya dengan peradaban budaya. Kampung halaman tokoh-tokoh bangsa, antara lain proklamator Bung Hatta, Agus Salim, dan Buya HAMKA.

Ibu-ibu itu meyakini masyarakat Sumatra Barat tidak akan terpengaruh dengan berita bohong yang terus disebarluaskan sebab masyarakat Sumatra Barat merupakan masyarakat rasional. Kaum perempuan itu bergabung dalam Komunitas Srikandi Indonesia (KSI) yang mengampanyekan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Gerakan mereka dipimpin Ketua Umum KSI Yanti Rukmana dan Pembina KSI Niniek Darmanto.

Mereka ialah emak-emak yang mendatangi warga dengan pesan rasional. Minangkabau memang tempat kelahiran banyak elite bangsa ini. Selain yang telah disebutkan, dari sana berasal Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama.

Dalam melahirkan orang-orang pintar Minangkabau, perlu disebut Kotagadang, yang sangat khas. Pada awal 1900-an, misalnya, inilah tempat kelahiran para pekerja birokrasi Belanda, seperti jaksa, pegawai pajak, yang meliputi daerah tugas Sumatra, Kalimantan, dan beberapa orang di Batavia. Di masa awal kemerdekaan, bahkan Bukit Tinggi pernah menjadi ibu kota Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika Yogya diserbu Belanda.

Saya sangat setuju betapa aneh bila orang Minangkabau percaya berita bohong. Menurut Sensus Penduduk 2010, hanya 2,30% penduduk berumur 7-15 tahun yang tidak/belum pernah sekolah.

Menurut data Unicef, pada 2015 angka partisipasi dalam pembelajaran PAUD yang terorganisasi di kalangan anak usia 6 tahun mencapai 95%, dan sebagian besar di antaranya masuk sekolah dasar lebih cepat.

Hampir separuh penduduk berumur 18 tahun bersekolah di sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi. Dari pepatah petitih Minangkabau pun tampaklah betapa kritis orang Minang. Mereka tidak hanya piawai berpepatah petitih sebagai ekspresi lisan, tapi juga lewat tulisan. Selama masa Balai Pustaka, 9 dari 15 pengarang terkemuka pada generasi 1920-1930-an itu ialah orang Minang.

Berita bohong tentang Jokowi itu tidak boleh dibiarkan, lalu diterima warga sebagai kebenaran. Ibu-ibu itu dengan gigih menemui warga untuk meluruskan yang bohong dan berupaya meyakinkan orang Minangkabau yang rasional itu agar melihat dan menerima dengan objektif siapa Jokowi dan apa kinerja pemerintah di bawah kepemimpinannya.

Saya tidak ingin menghakimi mahasiswi yang menawarkan dirinya menjadi istri kedua itu. Saya hanya menyesali dia tidak kritis. Kecaman justru lebih patut ditujukan ke panitia kampanye yang berpikir sensasional untuk menghidupkan acara dengan bertanya kepada Sandiaga apakah bersedia menjadikan si mahasiswi istri kedua.

Kampanye pilpres bukan ajang bercanda. Kampanye pilpres bukan ajang bermain-main. Kampanye pilpres ajang untuk meyakinkan rakyat yang punya hak pilih agar memilih pasangan capres-cawapres yang terbaik. Bangsa ini bukan sedang mencari pemimpin yang ingin punya atau bersedia punya istri kedua.

Masa kampanye pilpres masih sampai 13 April 2019. Kiranya tidak terulang lagi kampanye cara majal ada perempuan menawarkan diri menjadi istri kedua.

Kita ingin kampanye pilpres merupakan pendidikan politik, menyampaikan pesan yang rasional sehingga terpilih presiden yang terbaik yang telah terbukti hasil kerja dan pengabdiannya.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.