Pelajaran dari Terowongan Cu Chi

TUNTUTLAH ilmu sampai ke Tiongkok kiranya perlu diganti dengan  belajarlah kepada Vietnam. Itulah negara yang bikin kita kalah bersaing dalam menarik investasi asing.

Sepatutnya kita penasaran bagaimana negara yang mengalami perang panjang (19 tahun, 5 bulan, 4 minggu, dan 1 hari) kemudian dalam masa damai dapat bangkit relatif cepat.

Setelah menang perang melawan AS (1975), Vietnam yang terbelah dua, Utara dan Selatan, harus lebih dulu me­nguras energi mereka untuk menyatukan negara (1976). Akan tetapi, AS tidak bahagia dengan keberhasilan unifikasi itu. Selama 10 tahun (1976-1986) Vietnam diisolasikan secara ekonomi dan politik dari pergaulan bangsa-bangsa.

Akumulasi derita masa perang dan derita masa isolasi itu total hampir 30 tahun. Dalam 30 tahun kemudian (2016) bukan saja Vietnam punya hubungan diplomatik dengan 178 negara, di antaranya menjadi anggota ASEAN, tapi yang paling mengagumkan investasi asing di negara itu tumbuh pesat mencapai US$15,8 miliar, naik 9% dari tahun sebelumnya.

Pada 2018, investasi ke negara itu bahkan melompat jauh mencapai US$35,46 miliar atau naik 98,8% dari 2017. Total investasi itu berasal dari 112 negara. Jepang terbesar disusul Korea dan Singapura.

Akibat perang dagang dengan AS, investor meninggalkan Tiongkok. Belum lama ini dari 33 perusahaan yang meninggalkan Tiongkok, 23 memilih  pindah ke Vietnam, 10 sisanya pindah ke beberapa negara mulai dari Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Presiden Jokowi kesal tidak satu pun ke Indonesia.

Hemat saya kita perlu belajar dengan rendah hati dan saksama kenapa Vietnam begitu berjaya dalam investasi. Yang umum sudah diketahui  kecepatan pelayanan. Hanya dalam tempo sebulan, bahkan 25 hari, perusahaan asing baru langsung bisa beroperasi. Di Indonesia, makan waktu bertahun-tahun.

Di Vietnam praktis tidak ada standar modal minimum untuk kebanyakan industri. Perusahaan dengan kepemilikan 100% asing bisa investasi di lebih 100 cabang binis. Investor tidak perlu repot harus punya mitra lokal dalam kepemilikan perusahaan sebelum berinvestasi. Semua kemudahan Vietnam itu kiranya lebih dari cukup untuk bikin Indonesia keok.

Di balik semua itu, Vietnam punya nilai-nilai yang hidup di tubuh dan jiwa bangsa itu yang diekspresikan dalam spirit kala membangun Terowongan Cu Chi dan tentu spirit ketika mereka hidup bertahun-tahun di dalam terowongan itu yang membuat Vietnam menang perang. Hemat saya spirit itu terus dipelihara hingga sekarang dalam membangun Vietnam, antara lain melalui investasi.

Salah satu prinsip dalam spirit Terowongan Cu Chi ialah ‘The attention to detail is dogmatic’. Perhatian akan detail ialah perkara dogmatis. Sekadar contoh, jarak pintu masuk terowongan yang satu dengan terowongan yang lain sangat pendek, terkadang hanya 5-7 meter. Untuk terowongan yang berfungsi sebagai bungker terbuka, atap pintu masuk khusus dibuat menggunakan bambu berukuran 50 cm yang dilapisi sekam hijau menyerupai rerumputan sehingga serdadu AS teperdaya.

Demikianlah dalam perang, Terowongan Cu Chi membuat AS kalah berdarah-darah. Dalam damai sekarang ini, Terowongan Cu Chi bukan hanya menjadi salah satu objek turisme historis dan heroik penghasil devisa bagi Vietnam, melainkan juga kiranya sumber inspirasi untuk kita.

Kita harus belajar berpikir besar untuk menang. Akan tetapi, itu tidak cukup. Kita perlu pula belajar mencintai detail yang terukur seperti Vietnam sehingga dalam 25 hari perusahaan asing langsung bisa beroperasi.

Recent Comments

    Categories

    adminsaurhutabarat Written by:

    Comments are closed.