Fotografer: Didik Suryantoro

About

Hilangnya Marolop

Ayah dua anak, kakek dua cucu, itulah status genealogis saya, yang inti dan terpokok. Hal itu juga terekspresikan dalam fakta fisik, putih rambut tumbuh seiring dengan berlanjutnya usia. Tampak gaek, tapi menyemirnya hitam bukan pilihan. Barang orisinal kiranya punya makna, setitik sekalipun.

Saya lahir di Jambi, 3 Januari 1953. Di situlah pula, saya menyelesaikan SD hingga SMA (1970). Setelah itu, dengan kacamata kuda, saya hanya mengagumi Yogya sebagai kota pendidikan.

Berbekal ijazah SMA dengan nilai Ilmu Ukur Ruang 8, Aljabar Analit 8, Ilmu Ukur Sudut 8, saya dengan penuh percaya diri memilih kuliah di FIPA UGM, Jurusan Matematika (1971). Apakah saya berhasil? Gagal. Drop out!

Matematika kiranya terlalu kering, atau terlalu berat dan abstrak buat saya. Padahal di bilangan Sekip, di Perpustakaan Pusat UGM, terhidang ribuan judul buku yang menawan hati dan pikiran. Di Jambi, di ‘dusun’ itu, tak ada kemewahan itu. Air liur anak dusun dari segi fasilitas perpustakaan itu mengalir deras ingin melahap kekayaan khasanah.

Saya semakin ‘sesat’, karena di kios koran terpajang ‘dunia baru’, majalah kebudayaan dan kesusastraan, yang juga tak saya temui di Jambi.

Hidupku salah tempat. Sementara dosen memberi kuliah mata ajar Diferensial Integral di muka kelas, saya malah asyik membaca majalah kebudayaan dan kesusastraan. Saya ‘terseret’ majalah Basis, Budaya Jaya, Horison. Timbullah keinginan menjadi penulis, wartawan.

Akan tetapi, hasrat itu belum kental benar, belum yakin betul, bahwa itulah dunia yang ingin saya geluti. Dari kuliah ilmu murni matematika, saya menggeser minat ke ilmu terapan, kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Sipil, Universitas Atmajaya. Nilaiku tidak jelek, tapi hidupku kian salah tempat. Kali ini (1973), sayalah yang meninggalkan sekolah, bukan sekolah yang mendepak atau mendrop-outkan saya.

Pada 1974, dalam usia 21 tahun, saya memulai dunia baru, pindah haluan, menjadi mahasiswa Fisipol UGM, Jurusan Publisistik (Kini, Ilmu Komunikasi). Saya pun mulai menulis, dimuat di koran nasional Kompas dan Sinar Harapan. Saya aktif mengasuh Gelora Mahasiswa, surat kabar mahasiswa UGM, mulai dari reporter, redaktur, pemimpin umum. Koran itu bersuara keras, diberedel oleh rektornya sendiri, Prof. DR. Sukadji Ranuwihardjo, MA.

Saya lulus sarjana akhir 1979. Pada Maret 1980, saya memulai karier profesional sebagai jurnalis di Majalah Berita Tempo. Bermula dari sanalah daftar mantan tersandang bertambah panjang: mantan wartawan Majalah Berita Tempo, mantan wartawan Majalah Berita Editor, mantan Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia, mantan Pemimpin Redaksi Metro TV, televisi berita pertama di Indonesia.

Tak hanya itu. Saya juga mantan penulis Editorial di Media Indonesia. Di Metro TV, saya mantan pembedah dalam program Bedah Editorial, serta mantan host program Save Our Nation. Saya juga mantan Ketua Media Center Jokowi-JK (Pilpres 2014).

Akan tetapi, saya rasanya belum ingin mantan dalam berkarya, dalam berpikir. Saya (masih) Ketua Dewan Redaksi Media Group (Harian Lampung Post, Media Indonesia, Metro TV), milik Surya Paloh. Saya (masih) terus menulis di Media Indonesia, dalam rubrik Podium, dua kali sepekan, Senin dan Kamis. Sebagian tulisan itu (masih) dimuat di laman ini.

Saya anak lelaki pertama dari lima bersaudara. Ayah saya juga anak pertama. Mengikuti tradisi Batak, nama anak lelaki pertama dari ayah yang juga anak pertama, merupakan nama panggilan (goar panggoaran) untuk ayah dan kakek. Karena itu, ayah saya meminta kakek untuk memberi nama saya, yang juga nama panggilan mereka berdua.

Kakek atau opung kemudian memberiku nama Saur Marolop. Itulah nama lengkapku. Itulah pula yang tertera di semua ijazah. Di kampung asal kami, Parikmatia, Pahae, Tapanuli Utara, orang memanggil saya, Si Marolop. Kakek saya disebut Opu Marolop, sedangkan ayah, Ama Marolop. Opu bahasa Batak untuk kakek, sedangkan ama untuk bapak.

Karena marga saya Hutabarat, nama lengkap saya ialah Saur Marolop Hutabarat. Sebuah nama yang rasanya terlalu panjang untuk dipakai dalam karya. Karena itu, dalam berkarya di awal karier sebagai jurnalis, saya menyingkatnya menjadi Saur M. Hutabarat. Dalam perjalanan panjang profesi, ‘M’ itu pun ‘menghilang’. Sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, saya sebetulnya telah menghilangkan nama yang juga panggilan untuk ayah dan kakek. Kendati demikian, saya yakin betul, jika keduanya masih hidup, keduanya sangat memahami mengapa hal itu terjadi.

Di KTP, untuk urusan sehari-hari sebagai warga negara, saya memakai nama Saur Hutabarat. Akan tetapi untuk urusan bepergian, di paspor, tertera lengkap, Saur Marolop Hutabarat. Kenapa? Karena tidak punya akta kelahiran, untuk melengkapi persyaratan mengurus paspor, saya menggunakan ijazah. Di situ yang tertera Saur Marolop.

Di kuburanku nanti, di batu nisanku, ketika semuanya tak lagi berurusan dengan karya dan profesi, kiranya anak cucuku mengukir jelas dan tegas nama lengkapku, Saur Marolop Hutabarat. Kurang lebih, itulah pula nama di ‘paspor’ menuju alam baka. Kenapa? Karena ‘marolop’ berarti ‘gembira’, ‘bahagia’. Marolop olop berarti bersuka cita. Saur Marolop, selamat bahagia. Bukankah kematian menyelesaikan semua urusan dunia?

Saya menyelesaikan sekolah dasar, kala itu Sekolah Rakyat (SR), di Bajubang, Jambi, hanya dalam 5 tahun. Saya tidak menduduki kursi kelas 6 SR. Seorang guru kelas 5, Pak Sukardi, berasal dari Yogya, membuat terobosan, yang disetujui kepala sekolah, yaitu mengambil juara kelas dari semua kelas 5, untuk dipersiapkan khusus ‘melompat’ ikut ujian akhir kelas 6. Tiap sore, guru itu memberi kami pelajaran tambahan. Semula ada lima orang peserta, tapi dua kawan mengundurkan diri di tengah jalan. Kami bertiga semuanya lulus, melompat dengan mulus.

Saya menghemat waktu setahun ketika SD. Akan tetapi, saya membuang tiga tahun di universitas, drop out, karena salah pilih jurusan. Salah pilih jurusan? Setelah beranak cucu, izinkan saya mengoreksi pernyataan itu. Yang benar dan jujur, saya tidak cukup cerdas untuk menjadi matematisi dan tidak cukup berbakat untuk menjadi insiyur sipil. Padahal, untuk menjadi jurnalis orang tidak perlu sekolah jurnalistik. Fakta menunjukkan banyak rekan dari sekokah eksakta, sukses berkarier sebagai jurnalis. Sebaliknya, banyak jebolan Ilmu Komunikasi enggan menggumuli jurnalisme.

Gagasan untuk membuat laman ini datang dan pergi. Berkarya di dunia cetak masih menjadi kepuasan jiwa. Sampai kapan? Saya akhirnya berkeputusan menghidupkan laman ini, saurhutabarat.com. Untuk apa? Pertama, berjaga-jaga agar akun itu tidak diambil orang yang juga bernama Saur Hutabarat. Nama itu bukan nama pasaran, bukan pula nama monopoli, tidak pula nama yang dilindungi hak cipta/hak paten. Tapi kenapa tetap tanpa ‘Marolop’? Alasan yang sama, lebih praktis saurhutabarat.com daripada saurmarolophutabarat.com.

Kedua, kiranya lebih baik bagi siapa pun, tak terkecuali bagi saya, untuk juga berbagi pikiran di medium masa depan ini, ketimbang semata memelihara romantisme terhadap majalah/surat kabar yang katanya di ambang senja. Lagi pula, berpikir sendirian, untuk diri sendiri, tanpa orang tahu apa yang dipikirkan, bisa bikin gila.

Saya berbakat untuk ‘gila’, setidaknya rada gila. Daripada gila beneran, lebih baik tergila-gila. Untuk diketahui, saya memang agak tergila-gila nonton sepak bola. (Jakarta, 3 Oktober 2016)

Comments are closed.